1. Akurasi Sudut Kemiringan Atap. Pastikan bahwa Anda membuat sudut kemiringan yang tepat sehingga air mengalir ke tanah dengan cepat. Sudut kemiringan yang ideal adalah 30-35 derajad. Akan tetapi, ada berberapa jenis atap yang sudut kemiringannya dapat dibuat lebih landai (terutama pada rumah model Limasan Klabang Nyander). Dalam hal ini Anda harus jeli dalam memilih model genting sehingga aliran air hujan tidak masuk melalui celah-celah antar genting. Atap juga dapat direkatkan dengan paku agar tidak bergeser, yang nantinya dapat memberikan akses masuk air hujan.
2. Minimalisasi Sambungan Atap. Kebocoran ternyata dapat ditimbulkan dari sambungan sehingga sambungan antar atap perlu dikurangi. Hal tersebut perlu dilakukan karena setiap pertemuan atap berpotensi menimbulkan kebocoran. Risiko kebocoran dapat dikurangi dengan menggunakan atap bermodel pelana. Pada beberapa jenis gaya arsitektur rumah tinggal, seperti rumah tradisional jawa yakni joglo, terdapak sambungan struktur atap antara joglo dan rumah induk. Hal ini memunculkan sambungan yang dikenal dengan talang datar yang berpotensi menimbulkan kebocoran karena biasanya kemiringannya memiliki sudut yang relif landai. Perlu penyesuaian sehingga air tetap dapat mengalir turun dari atap dengan segera sehingga tidak memunculkan karat yang berakibat pada keroposnya talang.
4. Pemasangan Talang yang Tepat. Talang berfungsi untuk mengarahkan air hujan dari atap sehingga daapt turun ke tanah. Pastikan bahwa talang dipasang dengan ukuran, kekuatan daya tamping dan pemasangan yang tepat.
5. Penggunaan Waterproofing. Waterproofing merupakan bahan pelapis yang kedap air. Aplikasi waterproofing dapat dilakukan dengan kuas, roller atau spray. Pastikan pengaplikasiannya perlu dibuat beberapa lapis sehingga dapat mencegah kebocoran.
0 komentar:
Posting Komentar